Langkah transformasi struktur organisasi ini diawali dengan pendataan ulang dan verifikasi terhadap seluruh perkumpulan basket yang ada di wilayah kota. Setiap organisasi olahraga kini didorong untuk memiliki legalitas yang jelas serta kepengurusan yang fungsional, bukan hanya sekadar nama di atas kertas. Standarisasi ini penting agar setiap unit pembinaan memiliki tanggung jawab yang jelas dalam mencetak atlet dan mengelola sumber daya yang dimiliki. Dengan struktur yang rapi, koordinasi antara pengurus cabang di tingkat kota dengan pihak pengelola di lapangan akan berjalan lebih efektif, sehingga program-program pembinaan pusat dapat terdistribusi dengan merata tanpa hambatan administratif yang berarti.
Fokus utama dari perubahan ini adalah untuk menjamin keberlangsungan manajemen klub yang mandiri secara finansial. Selama ini, banyak tim yang bubar atau berhenti beroperasi karena hanya bergantung pada satu sosok pendonor tunggal. Melalui pelatihan manajemen, para pemilik klub diajarkan cara mencari sponsor, mengelola iuran anggota secara transparan, serta cara memasarkan tim mereka di media sosial untuk menarik mitra bisnis. Organisasi yang sehat secara finansial akan mampu menyediakan fasilitas latihan yang lebih baik, membayar pelatih berkualitas, serta menjamin keikutsertaan atlet dalam berbagai turnamen penting tanpa harus terkendala masalah biaya transportasi atau pendaftaran.
Upaya organisasi Perbasi di tingkat daerah dalam memodernisasi cara kerja ini juga mencakup digitalisasi sistem informasi atlet. Setiap pemain yang bernaung di bawah organisasi resmi kini memiliki rekam jejak digital yang mencatat perkembangan fisik dan statistik pertandingan mereka. Data ini sangat berharga bagi tim pemantau bakat untuk menentukan siapa saja yang layak dipanggil masuk ke dalam tim perwakilan kota. Dengan sistem berbasis data, subjektivitas dalam pemilihan atlet dapat diminimalisir, sehingga hanya pemain yang benar-benar berprestasi dan memiliki disiplin tinggi yang mendapatkan kesempatan untuk maju ke level yang lebih tinggi dengan dukungan penuh dari organisasi.
Kota Cirebon memiliki sejarah olahraga yang cukup kuat, dan modal sosial ini ingin dimanfaatkan untuk mempercepat proses pembenahan internal. Kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan olahraga akan meningkat jika mereka melihat bahwa setiap kegiatan dikelola secara profesional. Semangat transparansi dalam penggunaan dana bantuan serta keterbukaan dalam pengambilan keputusan strategis menjadi prinsip utama yang harus dipegang teguh oleh para pengurus. Dengan manajemen yang sehat, tidak ada lagi konflik kepentingan yang dapat merusak suasana kekeluargaan di dalam komunitas, sehingga seluruh elemen dapat fokus pada satu tujuan utama, yaitu mengharumkan nama daerah di setiap kompetisi yang diikuti.